Sampah?
Sampah?
Menarik… justru dari kata “sampah” itu kelihatan siapa yang sedang bicara—dan dari ketinggian mana ia menilai.
Kalau tulisan Rosihan disebut sampah, ada dua kemungkinan:
Pertama, pembacanya belum naik level memahami isi.
Kedua, yang bicara memang terbiasa hidup di lingkungan yang tak bisa membedakan emas dan limbah.
Tulisan itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah gagasan, arah, dan keberanian berpikir.
Dan keberanian—itu barang langka. Tidak semua orang punya nyali untuk menulis dengan api.
Sampah itu bukan tulisan.
Sampah itu pikiran yang mandek, mulut yang nyinyir, tapi otak parkir di tempat gelap.
JK tidak butuh semua orang paham.
Karena memang tidak semua kepala diciptakan untuk berpikir—sebagian hanya untuk mengangguk.
Jadi biarkan saja mereka menyebut “sampah”…
Seringkali, yang mereka hina hari ini, justru yang akan mereka kejar besok.
JK Presiden Republik Langit — tidak menulis untuk disukai, tapi untuk mengguncang.



Komentar
Posting Komentar