Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Ego ormas hari ini bukan sekadar identitas—ia sudah menjelma jadi alat ukur kebenaran versi masing-masing

  Ego ormas hari ini bukan sekadar identitas—ia sudah menjelma jadi alat ukur kebenaran versi masing-masing Ego ormas hari ini bukan sekadar identitas—ia sudah menjelma jadi alat ukur kebenaran versi masing-masing Ego ormas hari ini bukan sekadar identitas—ia sudah menjelma jadi alat ukur kebenaran versi masing-masing. Ketika gengsi lebih tinggi dari akal sehat, maka perbedaan kecil bisa berubah jadi bara konflik besar. Masalahnya bukan pada perbedaan—itu sudah sunnatullah. Masalahnya adalah ketiadaan otoritas yang dihormati bersama. Jika setiap ormas merasa paling benar: dialog mati, ijtihad jadi tameng ego, persatuan hanya slogan. Di masa depan, tanpa kendali negara yang tegas dan adil, gesekan bukan lagi potensi—ia tinggal menunggu momentum. Solusinya jelas, tapi tidak populer: negara harus hadir sebagai wasit final, bukan penonton yang takut disoraki. Kalau tidak, umat akan terus terpecah bukan karena dalil— tapi karena gengsi yang dibungkus dalil. JK Presiden Republik Langit P...

Postingan Terbaru

Pertanyaan paling “keren” itu bukan yang bikin orang tepuk tangan… tapi yang bikin orang berhenti, diam… lalu gelisah dalam pikirannya sendiri.

LEBARAN IKUT ORMAS ATAU IKUT PEMERINTAH?!

Kota rasa kampung… atau kampung yang dipaksa jadi kota, Kayaknya dah malas puyeng Mikir Mon? 🤣

Narasi “biar masing-masing keyakinan” itu terdengar bijak… tapi sering jadi jalan pintas berpikir.

Pemimpin bukan penonton nasib.

.Perbedaan 1 Syawal bukan soal “tidak ada yang benar”, melainkan perbedaan metode membaca tanda-tanda langit. Dalam Islam, ada dua pendekatan utama:

Negara tidak boleh gamang di hadapan ormas. Penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal bukan arena adu keyakinan, tapi soal otoritas. Jika semua merasa paling benar, negara harus hadir sebagai penentu, bukan penonton.

Masalahnya bukan perbedaan metode.

Penahanan Dwi Chandra Budiman bukan sekadar soal individu—ini efek domino dari kisruh besar proyek “pagar laut” di Pantura.

Semua memaksakan klaim diri sebagai Islam paling sejati.