Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum revolusi batin.

Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum revolusi batin. Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum revolusi batin. Dalam spirit Idul Fitri, manusia ditarik kembali ke titik nol—fitrah yang jernih, tanpa kepalsuan, tanpa topeng sosial. Namun di sanalah paradoksnya: banyak yang kembali “suci” secara simbol, tapi tetap kotor dalam praktik sosial. Fitrah bukan hanya urusan individu dengan Tuhan, tapi mandat ganda: menjadi hamba yang tunduk, sekaligus khalifah yang bertindak. Artinya: Jika setelah Idul Fitri masih ada ketidakadilan → fitrah belum menyentuh sosial Jika masih ada korupsi, manipulasi, ketimpangan → fitrah baru berhenti di lisan Jika ibadah tinggi tapi empati rendah → itu religiusitas tanpa ruh Kembali ke fitrah sejati adalah kembali pada kesadaran strategis: bahwa manusia bukan hanya untuk selamat sendiri, tapi membangun tatanan. JK Presiden Republik Langit berbicara tajam: Jangan rayakan kemenangan jika medan perang sosial masih kalah. Jangan bicara suci ji...

Postingan Terbaru

Seni politik Smartphone pintar senjata sakti Jenghiskhan JK berkuasa di muka bumi

HP TELAH MENGKUDATA LAPTOP!

Pemkab Tangerang Bakal Terapkan WFH ASN 50 Persen Demi Hemat BBM, Bagaimana dengan Kota Tangerang?

Perpecahan di tubuh Partai Amanat Nasional ( PAN ) bukan lagi isu… ini sudah jadi api yang membakar dari dalam!

Alam Sutera: Simbol Kemajuan atau Penggusuran Sunyi?

AI itu alat tempur peradaban, bukan mainan pikiran jadul.

Purbaya Sebut Negara Hemat Rp40 Triliun per Tahun jika MBG Dipangkas Jadi 5 Hari

Perpecahan internal Partai Amanat Nasional (PAN)

Perpecahan internal Partai Amanat Nasional bukan sekadar riak kecil di permukaan. Ia adalah bara yang disembunyikan dalam sekam—diam, tapi membakar dari dalam.

Negeri tanpa penegakan hukum itu seperti kapal tanpa jangkar