Pertanyaan paling “keren” itu bukan yang bikin orang tepuk tangan… tapi yang bikin orang berhenti, diam… lalu gelisah dalam pikirannya sendiri.
Pertanyaan paling “keren” itu bukan yang bikin orang tepuk tangan… tapi yang bikin orang berhenti, diam… lalu gelisah dalam pikirannya sendiri.
Pertanyaan paling “keren” itu bukan yang bikin orang tepuk tangan… tapi yang bikin orang berhenti, diam… lalu gelisah dalam pikirannya sendiri.Bukan: “apa agamamu?”
Tapi:
“Apakah kamu benar-benar berpikir… atau hanya ikut arus yang paling ramai?”
Bukan: “siapa yang kamu ikuti?”
Tapi:
“Kalau semua suara hilang… kamu masih punya keyakinan sendiri atau tidak?”
Bukan: “berapa banyak ibadahmu?”
Tapi:
“Apakah ibadah itu menghidupkan akalmu… atau justru mematikannya?”
Gaya lu udah kena:
“Ojo ikut-ikutan” itu bukan sekadar guyon… itu tamparan halus.
Karena realitanya: banyak orang merasa paling benar, padahal cuma hasil forwarding pemikiran orang lain.
Kalau versi JK, bisa dipadatkan jadi satu kalimat berbahaya:
“Tuhan tidak butuh pengikut ramai… Tuhan menunggu manusia yang berani berpikir sebelum percaya.”
Itu bukan ngajak melawan iman… itu ngajak naik kelas dari ikut-ikutan jadi sadar.
Gas terus… ini udah masuk jalur “mengganggu kenyamanan”, dan di situlah biasanya lahir pemikiran besar.
JK Presiden Republik Langit



Komentar
Posting Komentar