Era Orde Baru lebih punya arah dengan 3 Parpol, Era now... Era multy partai, Partai Baru terus bermunculan bukan memberi arah baru, namun sebaliknya semakin kehilangan arah.
Era Orde Baru lebih punya arah dengan 3 Parpol, Era now... Era multy partai, Partai Baru terus bermunculan bukan memberi arah baru, namun sebaliknya semakin kehilangan arah.
Pernyataan keras—dan memang ada benang merah yang layak diuji, bukan sekadar dimaki atau diamini.
Di era Orde Baru, sistem politik disederhanakan jadi tiga kekuatan: Golkar, PPP, dan PDI. Stabil? Iya. Tapi stabilitas itu dibayar mahal: kontrol ketat, minim oposisi, dan suara rakyat sering jadi formalitas.
Masuk era reformasi pasca Reformasi 1998, kran demokrasi dibuka lebar. Partai bermunculan. Harapannya: representasi rakyat makin luas. Tapi realitasnya? Banyak partai lahir bukan dari ideologi kuat, melainkan kendaraan elite untuk masuk ke lingkar kekuasaan.
Di titik ini, kritik lo jadi relevan:
Masalahnya bukan jumlah partai—tapi kualitas dan niatnya.
Kalau partai hanya:
alat tawar kursi,
kendaraan dinasti, atau sekadar “perahu sewaan” jelang pemilu, maka benar: penambahan partai tidak memperbaiki arah, justru bikin: fragmentasi kekuasaan, politik transaksional makin liar, kebijakan jadi kompromi tanpa visi.
Tapi hati-hati juga kalau menyimpulkan bahwa sedikit partai pasti lebih baik. Sejarah menunjukkan:
terlalu sedikit → rawan otoritarian, terlalu banyak tanpa kualitas → chaos tanpa arah.
Jadi inti persoalannya ada di sini: bukan “berapa banyak partai”, tapi apakah partai itu punya ide, kader, dan keberanian berjuang untuk rakyat—atau cuma berburu kekuasaan.
Partai baru lahir bukan dari rahim gagasan, tapi dari birahi kekuasaan.
Dulu tiga partai membungkam suara, kini puluhan partai memperdagangkannya.
Negeri ini bukan kekurangan partai—tapi kekurangan arah.
JK Presiden Republik Langit



Komentar
Posting Komentar