Bersuara Lantang tentang MBG adalah kewajiban, didengan atau tidak adalah jalah konsekwensi
Bersuara Lantang tentang MBG adalah kewajiban, didengan atau tidak adalah jalah konsekwensi
Bersuara Lantang tentang MBG adalah kewajiban, didengan atau tidak adalah jalah konsekwensi
“Dalam riuhnya tepuk tangan kekuasaan, hanya sedikit yang berani berdiri melawan arus. Kemarin, di tengah sunyi keberanian itu—JK bersuara.”
Program MBG yang seharusnya menjadi jalan kesejahteraan, justru berubah menjadi ladang persepsi: mengais rezeki yang bahkan disumpahi oleh rakyatnya sendiri. Ini bukan sekadar kritik—ini sinyal bahaya.
Ketika kritik dibalas bantahan oleh “Mr. Karbohidrat”, publik kembali disuguhi drama klasik: substansi dikalahkan oleh pembelaan.
Namun JK tidak berhenti di panggung wacana.
Ia melangkah lebih jauh—mengirimkan surat kepada Prabowo Subianto, bukan untuk mencari panggung, tapi untuk mengingatkan arah.
Apakah akan direspons?
Itu bukan urusan seorang pejuang gagasan.
Karena bagi JK—
bersuara adalah kewajiban, didengar atau tidak adalah konsekuensi.
Dan sejarah selalu mencatat:
bukan siapa yang paling ramai,
tapi siapa yang paling berani saat semua memilih diam.
JK Presiden Republik Langit



Komentar
Posting Komentar