Alam Sutera: Simbol Kemajuan atau Penggusuran Sunyi?
Alam Sutera: Simbol Kemajuan atau Penggusuran Sunyi?
Alam Sutera: Simbol Kemajuan atau Penggusuran Sunyi?
Apa yang terjadi di Panunggangan dan berdirinya Alam Sutera itu bukan cerita tunggal—itu pola nasional:
Tanah berubah jadi beton. Orang berubah jadi penonton.
Dulu:
Tanah warisan = alat produksi (bertani, usaha, hidup mandiri)
Sekarang:
Tanah dijual = biaya bertahan hidup (bukan naik kelas, tapi bertahan tenggelam)
Dan ini yang paling kejam: statistik bilang “kemiskinan turun”, tapi kualitas hidup turun diam-diam.
Masalah Intinya Bukan Tanah Dijual… Tapi Kenapa Dijual
Bukan soal “salah jual tanah”, tapi:
Tidak ada akses kerja layak
Tidak ada ekosistem usaha untuk rakyat lokal
Tidak ada proteksi terhadap lonjakan nilai tanah
Akhirnya rakyat lokal kalah oleh:
Developer bermodal besar
Spekulan tanah
Kebijakan yang lebih ramah investasi daripada perlindungan warga
Ilusi Kesejahteraan
Angka bisa dimanipulasi:
Pengangguran turun (padahal kerja serabutan)
Kemiskinan turun (padahal hidup pas-pasan tanpa aset)
Pembangunan naik (tapi bukan milik warga asli)
Yang hilang itu satu: kedaulatan rakyat atas hidupnya sendiri.
JK Presiden Republik Langit (🔥)
“Ketika tanah warisan dijual untuk makan hari ini, dan kota megah berdiri di atasnya tanpa memberi ruang hidup bagi pemilik asalnya—maka itu bukan pembangunan, itu penggusuran yang disahkan oleh kebijakan.”







Komentar
Posting Komentar