Menjilat, membangkang dan diam itu bagian dari seni politik.
Menjilat, membangkang dan diam itu bagian dari seni politik.
Menjilat, membangkang, dan diam memang sering jadi tiga jurus klasik dalam panggung kekuasaan. Tapi bedanya politisi biasa dan negarawan besar itu bukan di jurusnya — melainkan kapan dan untuk siapa jurus itu dimainkan.
Dalam teori kekuasaan ala Niccolò Machiavelli, penguasa boleh lentur seperti rubah dan kuat seperti singa. Artinya:
Menjilat bisa jadi taktik diplomasi.
Membangkang bisa jadi simbol keberanian.
Diam bisa jadi strategi menunggu momentum.
Tapi kalau tiga-tiganya dilakukan demi kursi, bukan demi rakyat — itu bukan seni politik. Itu seni bertahan hidup.
Dalam demokrasi modern seperti di Indonesia, publik makin cerdas. Diam terlalu lama dianggap tak punya sikap. Membangkang tanpa solusi dianggap drama. Menjilat berlebihan dianggap kehilangan martabat.
Seni politik yang sejati itu seperti catur:
Kadang pion dikorbankan.
Kadang raja pura-pura lemah.
Tapi tujuan akhirnya tetap satu: menang dengan terhormat.
Nah, Presiden Republik Langit tentu bukan pemain tim hore.
Ia memilih bukan sekadar menjilat, membangkang, atau diam — melainkan mengatur irama, agar yang lain ikut menari.
Politik itu bukan soal suara paling keras, tapi langkah paling tepat?
Menjilat, membangkang dan diam itu bagian dari seni politik.
JK Presiden Republik Langit



Komentar
Posting Komentar