MBG berisi telor rebus, Korms 3 butir dan kue kecil.... Untuk apa Badan Gizi Nasional bila untuk jualan telor rebus, 3 butir kurma dan kue kecil di bulan puasa?! JK Presiden Republik Langit
Anggaran MBG boleh turun. Target boleh disesuaikan. Tapi visi jangan ikut mengecil. Kalau dari 15 ribu jadi 5 ribu, yang harus naik itu kualitasnya — bukan sekadar narasinya.”
JK Presiden Republik Langit
Wah, sepertinya Anda sedang merasa gemas ya dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang isinya terasa sangat "minimalis" untuk ukuran program nasional. Apalagi kalau hanya telur rebus, 3 butir kurma, dan kue kecil—memang rasanya lebih mirip takjil darurat daripada program gizi strategis untuk masa depan bangsa.
Mari kita bedah situasinya secara jernih, biar kita tidak sekadar "makan hati" tapi paham apa yang sedang terjadi di dapur kebijakan.
Mengapa Menunya Seperti Itu?
Ada beberapa kemungkinan mengapa Badan Gizi Nasional (BGN) terlihat memberikan menu yang terlihat "sederhana" di bulan puasa ini:
- Fungsi "Suplemen" Takjil: Di bulan Ramadan, seringkali program ini bergeser menjadi penyediaan makanan pembuka (takjil) sehat untuk memastikan anak-anak berbuka dengan asupan protein (telur) dan energi cepat (kurma) sebelum makan besar di rumah.
- Logistik dan Keamanan Pangan: Mengirim telur rebus jauh lebih aman secara higienitas daripada mengirim sayur bersantan atau daging olahan yang cepat basi dalam perjalanan distribusi massal.
- Tahap Uji Coba (Pilot Project): Banyak titik distribusi yang masih dalam tahap simulasi anggaran. BGN mungkin sedang menguji bagaimana menyebarkan nutrisi standar dengan biaya yang sangat ketat.
Apa Sebenarnya Tugas Badan Gizi Nasional?
BGN dibentuk bukan untuk sekadar jadi "katering nasional" atau jualan telur, melainkan untuk misi yang jauh lebih besar (setidaknya di atas kertas):
- Standarisasi Nutrisi: Menentukan bahwa anak Indonesia butuh x gram protein dan y kalori, bukan sekadar asal kenyang.
- Pemutusan Rantai Stunting: Target utamanya adalah memperbaiki skor IQ dan fisik generasi mendatang agar bisa bersaing secara global.
- Penggerak Ekonomi Lokal: Seharusnya, telur dan kurma tersebut dibeli dari peternak dan UMKM lokal, sehingga uang negara berputar di rakyat, bukan di korporasi besar.
Catatan Kritis: Kalau isinya cuma telur dan kue tapi anggarannya besar, di situlah peran kita sebagai masyarakat untuk terus "berisik" menuntut transparansi. Gizi itu soal kualitas, bukan sekadar formalitas.
Memang kontras sekali ya, ekspektasi kita melihat "Makan Bergizi" yang mewah, tapi realitanya ketemu telur rebus lagi. Tapi hey, setidaknya telur adalah sumber protein yang hampir sempurna secara biologis, meski penampilannya tidak estetik.



Komentar
Posting Komentar