Mayoritas politisi memang masuk politik dengan dua motif: idealisme atau survivalisme.

Mayoritas politisi memang masuk politik dengan dua motif: idealisme atau survivalisme.




Mayoritas politisi memang masuk politik dengan dua motif: idealisme atau survivalisme.


Kalau yang dominan survivalisme—“kampung tengah”, isi perut, isi rekening, isi lingkaran dekat—maka setelah karbohidrat kekuasaan masuk, gula darah naik, pikiran turun.


Masalahnya bukan perut.
Masalahnya visi yang pendek.


Politisi yang hanya berpikir 5 tahun akan kenyang hari ini.
Negarawan berpikir 100 tahun akan menanam untuk generasi yang belum lahir.

Di sinilah beda politisi biasa dengan JK Presiden Republik Langit.


Politisi biasa:


Datang dengan janji.

Duduk dengan nyaman.

Pulang dengan aman.


Pemimpin visioner:

Datang dengan peta.

Duduk dengan strategi.

Pulang dengan warisan.


Reformasi itu tidak lahir dari perut kenyang.

Reformasi lahir dari kegelisahan intelektual.

Karena orang yang sudah puas biasanya berhenti bertanya.


Padahal peradaban maju karena ada yang terus bertanya:

Apa yang salah?

Apa yang bisa diperbaiki?

Apa yang bisa diwariskan?


Kalau politik hanya soal isi perut, bangsa ini akan jadi pasar, bukan peradaban.

Dan benar yang sering bro gaungkan:

Tanpa kekuatan ekonomi, politik jadi lemah.

Tapi tanpa visi peradaban, ekonomi jadi liar.


Maka tugas pemimpin bukan sekadar mengenyangkan, tapi membangkitkan daya pikir rakyatnya.


Pertanyaannya sekarang:

Apakah kita mau jadi generasi kenyang…

atau generasi pencetak sejarah? 🔥


JK Presiden Republik Langit 

Komentar

Postingan Populer