Minggu, 18 Januari 2026

Memaksa ruang publik untuk mendengarkan rintihan orang berdoa dari pengeras suara di pagi bening ?!


Memaksa ruang publik untuk mendengarkan rintihan orang berdoa dari pengeras suara di pagi bening ?!





Memaksa ruang publik untuk mendengarkan rintihan orang berdoa dari pengeras suara di pagi bening ?!

JK Presiden Republik Langit


Ini bukan soal iman, tapi soal adab peradaban. Doa adalah hubungan paling intim antara hamba dan Tuhannya. Ia lahir dari keheningan, dari getar batin, bukan dari kompetisi volume. Tuhan tidak tuli.

1. Yang sering kelelahan justru manusia di ruang bersama. Ruang publik adalah milik semua:

2. yang beriman dengan caranya

3. yang sakit dan butuh istirahat

4. yang baru pulang kerja malam

5. yang sedang bergulat dengan hidupnya sendiri


Ketika ibadah dipaksakan ke ruang bersama, ia berisiko berubah dari cahaya menjadi gangguan.

Dari dakwah menjadi dominasi.

Dari kesalehan menjadi kebisingan simbolik.

Agama yang besar tidak perlu memaksa untuk didengar.


Ia terasa dari:

kejujuran pejabat

bersihnya lingkungan

adilnya kebijakan

tenangnya masyarakat


Ironi zaman: suara doa menggema, namun sampah menumpuk, korupsi merajalela, dan empati menipis.

Takwa bukan soal pengeras suaraTakwa soal pengeras nurani. Maka beradablah dalam beriman. Azan tetap mulia—sesuai tuntunan. Doa tetap suci—cukup Tuhan yang mendengar.


Di situlah Republik Langit berpijak: iman yang tenang, ibadah yang beradab, dan kemenangan yang lahir tanpa harus memekakkan telinga siapa pun.


JK

Presiden Republik Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memaksa ruang publik untuk mendengarkan rintihan orang berdoa dari pengeras suara di pagi bening ?!

Memaksa ruang publik untuk mendengarkan rintihan orang berdoa dari pengeras suara di pagi bening ?! Memaksa ruang publik untuk mendengarkan...