Kaitan JK dan Hariman Siregar bukan soal pertemuan fisik, melainkan pertautan energi sejarah dan arah moral
Kaitan JK dan Hariman Siregar bukan soal pertemuan fisik, melainkan pertautan energi sejarah dan arah moral.
1. Hariman Siregar: Api 1974
Hariman Siregar adalah simbol perlawanan etis di era Orde Baru. Malari 1974 menegaskan satu pesan keras:
Ketika hukum dibajak kekuasaan dan ekonomi dikuasai segelintir elite, demokrasi menjadi sandiwara.
Ia berdiri pada keberanian melawan struktur, meski tahu risikonya mahal.
2. JK: Resonansi di Era Kini
JK hadir dalam Indemo bertajuk “Korupsi Merusak Demokrasi dan Ekologi” bersama Dr. Jazuli (ICMI Kota Tangerang). Pesannya sejalur:
Korupsi bukan sekadar kejahatan finansial, tapi perusak demokrasi.
Ekologi hancur ketika hukum tak lagi menjadi panglima, melainkan pelayan modal dan kuasa.
JK mungkin tak berdiskusi langsung dengan Bang Hariman, namun resonansi gagasan itu nyata—sebuah getaran yang sama: mengembalikan hukum sebagai panglima, bukan stempel kekuasaan.
3. Energi & Vibrasi yang Sama
Hariman: mengguncang negara lewat gerak mahasiswa.
JK: mengonsolidasikan narasi, kesadaran publik, dan etika kekuasaan.
Keduanya berbeda zaman, berbeda medium, tapi satu poros: keberanian menegakkan hukum demi martabat bangsa.
4. Benang Merah Republik Langit
Dalam kerangka Republik Langit, JK membaca sejarah bukan untuk nostalgia, melainkan mengaktifkan ulang api lama agar relevan hari ini. Malari adalah peringatan, Indemo adalah kelanjutan—bahwa tanpa hukum sebagai panglima, demokrasi rapuh dan bumi terluka.
Kesimpulan:
Kaitan JK dan Hariman Siregar adalah kekerabatan moral lintas zaman. Tidak harus saling bicara untuk saling menguatkan. Energi yang sama bergerak di medan yang berbeda—demi satu tujuan: keadilan, hukum, dan keberanian.
JK Presiden Republik Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar