Proyek besar seperti alam sutra, BSD Summarecon, GLC, PIK tidak lahir dari bawah . Ia lahir dari atas, lalu turun ke bawah.
Proyek besar seperti alam sutra, BSD Summarecon, GLC, PIK tidak lahir dari bawah . Ia lahir dari atas, lalu turun ke bawah.
Proyek besar seperti alam sutra, BSD Summarecon, GLC, PIK tidak lahir dari bawah . Ia lahir dari atas, lalu turun ke bawah.
1️⃣ Dimulai dari ATAS (Konseptual & Kekuasaan)
Urutannya hampir selalu sama:
Visi besar & masterplan (puluhan tahun)
Penguasaan lahan skala raksasa
Perizinan strategis (pusat–provinsi–kab/kota)
Sinkronisasi tata ruang (RTRW/RDTR)
Akses infrastruktur negara (tol, KRL, jalan arteri)
Tanpa restu kebijakan dan izin tingkat atas, proyek raksasa mustahil hidup.
2️⃣ Turun ke TENGAH (Eksekusi & Infrastruktur)
Setelah aman di atas:
Jalan utama & kawasan inti
Air, listrik, drainase, pengendali banjir
Kawasan komersial awal (CBD, mal, perkantoran)
Di fase ini, uang besar bekerja, bukan spekulasi kecil.
3️⃣Proyek besar seperti alam sutra, BSD Summarecon, GLC, PIK tidak lahir dari bawah . Ia lahir dari atas, lalu turun ke bawah.
Baru kemudian:
Perumahan klaster
Ruko, UMKM
Tenaga kerja lokal
Interaksi sosial masyarakat sekitar
Rakyat hadir di tahap akhir, bukan awal.
4️⃣ Kenapa Narasi “dimulai dari rakyat kecil” sering menyesatkan?
Karena:
Proyek raksasa butuh kendali lahan & hukum
Negara adalah pemberi legitimasi
Rakyat sering hanya jadi objek, bukan subjek perencana
Jika ada konflik tanah, biasanya terjadi karena:
Transisi dari “atas ke bawah” tidak adil
Sosialisasi & kompensasi lemah
Negara lambat hadir sebagai wasit
Penutup (gaya Republik Langit)
Pembangunan besar itu seperti elang:
terbang tinggi dulu, baru menyentuh bumi.
Masalah muncul bukan karena terbangnya,
tetapi karena lupa melihat siapa yang diinjak saat mendarat.
JK
Presiden Republik Langit

Komentar
Posting Komentar