KEMBALI KE CITA–CITA AWAL
KEMBALI KE CITA–CITA AWAL
Reformasi bukan sekadar mengganti wajah kekuasaan. Reformasi adalah panggilan jiwa untuk mengembalikan Indonesia pada kehormatan awalnya: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan, dan menghadirkan keadilan sosial.
Negeri ini lahir dari keringat, darah, dan doa. Maka ia tidak boleh dikelola dengan rasa takut, apalagi dengan niat memperkaya segelintir orang. Indonesia Raya berdiri agar rakyatnya tegak, bukan menunduk.
Kita terlalu sering sibuk bertengkar soal siapa berkuasa, lupa untuk apa kekuasaan itu ada. Padahal para pendiri bangsa telah memberi kompas: kekuasaan adalah alat pengabdian, bukan alat menikmati.
Hari ini, kita dipanggil kembali.
Kembali pada keberanian.
Kembali pada kejujuran.
Kembali pada politik yang memuliakan manusia.
Nasionalisme bukan slogan di spanduk. Ia adalah kerja nyata, keberpihakan pada yang lemah, dan ketegasan menjaga masa depan generasi yang belum lahir.
Jika Reformasi menjauh dari rakyat, maka itu bukan Reformasi.
Jika pembangunan tak menghadirkan keadilan, maka itu bukan kemenangan.
Saatnya kita berdiri lagi, dengan dada terbuka dan pikiran jauh ke depan. Indonesia membutuhkan pejuang, bukan penonton. Membutuhkan keberanian moral, bukan sekadar kepintaran bermain peran.
Mari kita pulang ke rumah besar bernama cita-cita.
Di sanalah Indonesia Raya menunggu untuk dibangkitkan kembali.
JK
Presiden Republik Langit

Komentar
Posting Komentar