Eggi Sudjana bukan orang sembarangan. Ia dikenal religius dalam retorika, keras dalam diksi, dan sering membawa nama Tuhan dalam setiap opini. Maka ketika langkah akhirnya justru berhenti di meja damai, yang retak bukan cuma strategi hukum—tapi moral perjuangan.
Eggi Sudjana bukan orang sembarangan. Ia dikenal religius dalam retorika, keras dalam diksi, dan sering membawa nama Tuhan dalam setiap opini. Maka ketika langkah akhirnya justru berhenti di meja damai, yang retak bukan cuma strategi hukum—tapi moral perjuangan.
Eggi Sudjana bukan orang sembarangan. Ia dikenal religius dalam retorika, keras dalam diksi, dan sering membawa nama Tuhan dalam setiap opini. Maka ketika langkah akhirnya justru berhenti di meja damai, yang retak bukan cuma strategi hukum—tapi moral perjuangan.
Masalahnya bukan sekadar SP3 atau restorative justice.
Masalahnya adalah ini:
Kata-kata yang dulu membakar, kini harus ditelan kembali.
Keberanian yang dulu diklaim, berhenti sebelum garis akhir.
Umat dan masyarakat yang sudah kadung percaya, ditinggal dengan rasa pahit.
Di titik itu, wajar bila publik bertanya:
👉 Apakah ini perjuangan, atau hanya letupan ego sesaat?
Religiusitas dalam perjuangan bukan soal ayat di bibir, tapi konsistensi saat risiko datang. Ketika lisan pernah menghakimi, maka konsekuensi harus siap dipikul—bukan dinegosiasikan diam-diam.
Di sinilah perbedaan jalan tampak jelas.
JK Presiden Republik Langit sejak awal bicara satu hal:
Kembalikan hukum sebagai panglima.
Bukan hukum yang bisa dinegosiasi oleh kedekatan, bukan perjuangan yang berhenti saat tekanan datang.
Perjuangan sejati memang melelahkan.
Kadang membuat kita menelan ludah sendiri— tapi justru di sanalah watak seorang pejuang diuji.
Dan sejarah selalu jujur:
ia mencatat siapa yang konsisten, dan siapa yang pulang lebih dulu saat api masih menyala.
JK Presiden Republik Langit



Komentar
Posting Komentar